Menghalau Pencuri, Melindungi Potensi

MULA11 Januari 2010, ikan impor hasil tangkapan laut yang masuk ke Benua Biru itu harus dilengkapi sertifikat tangkapan (catch certificate).Sertifikat itu, sesuai dengan peraturan Komisi UE No 1005/2008, bertujuan menanggulangi perikanan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur atau ilegal, iinrcported, unregulated (WU).

Dengan sertifikat itu, ikan yang diimpor harus jelas asal dart siapa yang menangkap. UE penting bagi kita. Mereka negara ketiga tujuan ekspor perikanan atau membeli 14% dari total ekspor kita atau US$450 juta pada 2007.

Kementerian Kelautan dan Perikanan memenuhi tuntutan UE dengan membuat sertifikasi hasil tangkap (SHT).
Sesuai dengan peraturan UE, SHT tidak berlaku bagi hasil kegiatan budi daya, perikanan air tawar, ikan hias, kekerangan, rumput laut, tiram, dan jenis lainnya.

Keyakinan kementerian tersebut akan kelancaran sistem itu diperkuat dengan sudah adanya logbook. Logbook merupakan fonnulir yang juga diisi nakhoda dan data mirip yang ada dalam SHT.Atas dasar ini pula Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (PPPP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Martani Huseini optimistis akan impor ke UE tahun depan. “Sertifikasi ini tidak akan mengubah peta ekspor kita. Ekspor ke Eropa akan jalan terus,” katanya.

Martani menambahkan, sertifikasi ini juga penting untuk stok ikan kita sendiri. “Kita kekurangan stok karena banyak ikan kita dicuri. Dengan adanya regulasi ini mencuri akan sulit,” katanya.Namun sebelum sampai ke perlindungan potensi ikan, kementerian sendiri sebenarnya masih harus memastikan kelancaran proses sertifikasi. Tidak sepelenya masalah pencatatan diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Soetomo HP. ATLI yang sudah melaksanakan logbook sendiri sejak 2008 saja masih meminta waktu adaptasi. “Kami mendukung peraturan ini, tapi ya maklum juga kalau belum sepenuhnya benar. Bagaimanapun peraturan baru butuh adaptasi,” katanya.

Tidak adanya budaya mencatat di nelayan diceritakan sendiri oleh nelayan tongkol di Indramayu Budi Laksana. “Masuk pelabuhan udah ditiing-guin tengkulak. Dia yang hitung, gak ada orang pelabuhan. Kita ya terima duit saja,” kata nelayan yang juga Presidium Nasional Serikat Nelayan Indonesia ini yang beberapa waktu lalu berdemonstrasi di Jakarta. Jika pendataan tangkapan selama ini saja belum berjalan baik, bagaimana menjamin keabsahan data dalam SHT, a-palagi melindungi potensi ikan kita?

sumber : http://bataviase.co.id/detailberita-10523761.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: